Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Pigura

“Barangkali memang aku bukan bagian dari sejarah. Atau mungkin mereka menghapusku dari masa silam. Wanita seperti kami tak pantas menyebut-nyebut kenangan. Tidak ada ruang lagi bagi kami berkeluh. Dan kami tak ubahnya wanita bejat-moral.”

Suara itu masih terdengar jelas di telinga ini. Itu sepotong percakapan Ibu denganku yang masih aku ingat-ingat. Sorot matanya tajam, menyala kebencian mendalam. Pipinya dilelehi air mata. Ia tak sanggup menceritakan lebih jauh, berhenti, lalu menangis terisak-isak.