“Barangkali memang aku bukan bagian dari sejarah. Atau mungkin mereka menghapusku dari masa silam. Wanita seperti kami tak pantas menyebut-nyebut kenangan. Tidak ada ruang lagi bagi kami berkeluh. Dan kami tak ubahnya wanita bejat-moral.”
Suara itu masih terdengar jelas di telinga ini. Itu sepotong percakapan Ibu denganku yang masih aku ingat-ingat. Sorot matanya tajam, menyala kebencian mendalam. Pipinya dilelehi air mata. Ia tak sanggup menceritakan lebih jauh, berhenti, lalu menangis terisak-isak.

